Industri percetakan saat ini dalam kondisi menyedihkan. Hampir semua perusahaan tergantung pada pesanan atau job order. Karena itu, perusahaan-perusahaan percetakan jangan hanya menggantungkan operasional perusahaan dari order. ”Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) harus kreatif mengupayakan ide-ide yang bisa dijual. Misalnya di Singapura, ambil contoh, yang mencetak satu produk misalnya brosur ada banyak perusahaan percetakan,” kata Dirjen Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan, Departemen Perindustrian dan Perdagangan Gatot Ibnu Santosa, pada pembukaan Pameran Print Paper Pack Indonesia 2001 di PRJ, di Jakarta, Selasa (27/11).
Menurut Gatot, perusahaan percetakan diminta untuk melebarkan sayap usahanya ke daerah-daerah setelah diterapkannya otonomi daerah (Otda). Mereka tidak boleh hanya berpaku pada order-order dari pemerintah tetapi harus kreatif dalam menjual idenya. Industri percetakan, lanjutnya, diharapkan membuka wacana bahwa daerah-daerah memiliki potensi yang bisa digarap dan ia setuju jika di masa mendatang pameran-pameran digelar di daerah. Gatot juga menegaskan, perusahaan-perusahaan percetakan harus memiliki daya saing. Meskipun harga-harga bahan baku naik tetapi hal itu jangan melemahkan daya saing karena konsumen saat ini mengejar harga yang paling murah. Dengan demikian perusahaan harus meningkatkan daya saingnya.”Industri percetakan merupakan bagian yang terintegrasi dengan industri pendukung yakni bahan baku dan faktor-faktor lainnya seperti teknologi, SDM, dan lain-lainnya,” ujarnya.
| |
sumber: [ http://www.sinarharapan.co.id/berita/0111/28/eko08.html ]







